Archive for March, 2008

Selamat Tinggal Langit Biru

kau lihat ketakutan itu?
kau dengar dentuman itu?
mengapa harus lari berteduh
pada saat dunia yang baru
di sajikan, di bawah langit biru

kau lihat ketakutan itu?
kau dengar dentuman itu?
semua nyala tlah jadi debu
tapi pedih masih menggebu
selamat tinggal, langit biru

*di terjemahkan dan di interpretasi-ulang dari lagu Pink Floyd yang berjudul “Goodbye Blue Sky”*

rawamangun, 24.02.2007, 09:29

Hikayat Pepohonan

:kepada cahaya

hutanku menghirup keresahan
jengah merambahi pepohonan
selimut kelam makin menebal
langka cahaya jadi mengekal
di kekang lengan mencekal
pepohonan ek yang membebal

gundah menerkam jejatian
berjejalan meraup sesinaran
terjerat naungan siksa bayang
memaksa hidup tanpa ampunan
di bawah pepohohan ek merindang

gundah menyeruak membuncah
hidup dalam hutan berlarian
seiring teriakan “penindasan!”
bergeming kaku dengan gelengan
pepohonan ek yang membatu

segala hidup jejatian menyatu
di bawah hutan berselaput kelam
“rakus melahap mereka” ujarnya
segala cahaya di telan tanpa sisa
itu yang harus direbut, kawan

kenangan mengganti tekanan
pada hukum yang agung mulia
keadilan membungkus pepohonan
dari beliung, gergaji dan kapak

*re-intrepretasi lirik lagu dari grup asal Kanada, Rush, yg berjudul ”The Trees”*

22.02.2007, 24:39

Kunjungan Ke Langit

bayangan hitam merengutku diam
terjerembab ku dibelahan malam
mulailah petualangan kelam

cahaya
beragam
menyeruak
menerkam
menerjang
terpana
lelap
dan
…terjaga

sosok putih menangkap mata
gelegar bicara pekatnya gema

“apa yang kau cari?”
“nikmatkah yang kau cari?”
“nikmat yang kau namakan sendiri”
“nikmat yang kau mainkan sendiri”
“nikmat yang kau seduh sendiri”

terperangah dan terpana
tak barang sejentikpun bibirku terbaca
tak sadar aku dalam ketaksadaranku
kali kedua selaput cahaya membungkusku

ringan
tenang
lengang
bisik
usik
terlena
usai
dan
…kembali terjaga

dalam kubangan peluh

rawamangun, 11.04.2006, 01:03

Namamu

aku ingin menulis namamu
dalam sebungkus harap
dan seuntai cinta
lalu kutitipkan pada bulan
agar bisa ia letakkan dipelukmu
saat kau terlelap dalam mimpi

aku ingin mengukir namamu
dalam sebongkah hati
yang terbenam di samudera
sehingga tak seekor ikan pun
bisa mencuri dan membawanya
saat kau tertidur dalam pelukku

22.03.2008, 03:12am

Paranoid

tolong,
enyahkan matamu
sebelum kau datang
dan mulai menantang

22.03.2008, 03:04am

Aku Rindu Kau

setiap malam aku mati
jeri sulit tertahankan
hujan tetap tak berhenti
menusuk halus membelah raga

setiap detik aku berhenti
di persimpangan arteri dan vena
menunggu butiran darah berlari
yang sudi membawa hati terpana

setiap kau peluk tubuh ini
ada sebentuk cahaya merekah
yang meronta dalam dada
berteriak, “aku rindu kau”

22.03.2008, 02:52am

Terpanah Busur Keparat

Walaupun tinggal di atas sana, mentari bukanlah sosok yang biasa mendidihkan apa saja yang lewat didepannya. Ia tahu betul menjaga rasa dan hawa jiwa sekitar bumi ini. Dan juga ia tahu bagaimana menghela sosok keran api yang ia jaga sejak berjuta-juta waktu lamanya dimana tak sebentuk roh pun mampu menjejas jejaknya. Bahkan pantulan sekeping cermin samudera pun cukup jelas menggambarkan rupa gemerlap silau nan memekakkan itu.

Tak satu jiwa pun di dunia ini menduga bahwa sejak kemarin pagi matahari tak beranjak bangun dari dalam kantung kabut yang terkumpul dari bulir-bulir keruh nya jiwa dan pula putik-putiknya menyebarkan aroma karat yang menyengat seolah telah ribuan tahun terendam dalam air laut mati. Ada apa gerangan? Tak cukup hanya tanya yang terucap. Karena darah serupa magma panas menyengat membawa api amarah muncul berjingkat menguak selimut kabut dan mulai menghujani bumi dengan serapah laknat.

Kami tak tahu lagi apa yang harus kami perbuat, pabila mentari terpanah busur keparat, dan bara magma mulai menyelimuti hati.

Kami tak tahu lagi apa yang harus kami perbuat, selain mencoba mengubur dendam agar tidak berbuah dendam.

14.03.2008, 01:46am

Di Pinggir Asa

Ini sudah hari kesekian kami bergelayut di pinggir asa yang setiap hari kau sisipkan ke dalam rusuk kami berdua. Tergolek saudara tua ku dalam kungkungan selimut duka yang berkepanjangan dan hampir saja ditinggal jiwa yang tlah lelah. Dan pula kobaran dengki itu tetap merajam sampai tubuh ini tak berbentuk walau hanya untuk menyerap hidup dari unsur hara terluar sekalipun. Akhirnya sisipan asa itu jua lah yang terus menerus menyambung nyawa kami, di atas debu-debu laknat panas berserakan di pondokan itu.

Ini sudah hari kesekian kami berandai-andai, apa yang akan terjadi bila pintu itu terbuka dan apakah ada sejumput hangat yang bisa kami pergunakan untuk mengganti gulungan kain kumal penuh resah karena tiap hari kami lilitkan pada hati kami berdua. Hanya sekedar berangan karena penantian akan turun nya hujan sudah sangat sulit kami percaya lagi. Hari demi hari, detik demi detik, makin punah pundi-pundi nadi yang bisa menjamin kami tetap bisa berdarah-daging sampai saat ini. Dan yang bisa kami lakukan sekarang hanyalah bergelayut di pinggir asa yang setiap hari kau sisipkan ke dalam rusuk kami berdua.

13.03.2008, 07:32pm

At Eight

heavy breath
stretched by confusion
gym at eight

13.03.2008, 12:06am

Sandwich

starless night
sandwich with no fill-in
in the morning

13.03.2008, 11:59am