Kukatakan Pada Kami

: TSP

Aku berkata pada kami bahwa hujan yang mendera bumi itu adalah serbuk surga yang tanpa sengaja tertumpah dari dapur langit. Kami mengangguk bukan tanda setuju padaku tapi lebih pada kejerian pada hampanya langit seolah butiran kemilau matahari memanggang dalam terik sehingga tak setitik pun bulir hujan dapat bertahan.

Aku berkata pada kami bahwa di setiap pojok yang kami pikir akan masih tersisa sejuknya embun yang aku sebut sebagai serbuk surga tidak pernah ada asa yang mubazir. Karena setiap harapan akan selalu tertanam dalam butiran inti darah setiap mahluk yang nafasnya dipinjamkan olehNya. Oleh karena itu aku ajak kami merenung.

Aku masih akan berkata pada kami bahwa sejauh-jauhnya kami berjalan jangan lah lupa untuk membersihkan ku dari debu suram yang selalu menghalangi tubuh dari hangatnya mentari dan juga sejuknya embun. Dan kami pun berkata pada ku, mulailah dari kaki karena pijakan yang nyaman akan jadi penopang yang baik. lalu akhirilah di kepala karena setelah semuanya berbaur dalam gelombang hujan, maka butiran serbuk surga akan selalu menunggu untuk dijunjung.

22.12.2008, 01:58AM

Sekepal

sekepal rasa membuncah megah
memeluk erat menjerat nafas

sekepal hasrat coba merangkul
ronta merebak beku bertahan

sekepal angin mencecar lembayung
basuh nestapa taubat menelikung

sekepal sesal melayang jauh
harap kembali keratan asa

20.12.2008, 01:46AM

Glitch

o shit
look too neat
for glitch

15.12.2008, 01:15AM

Memories

memories
got into my brain
call their friends

15.12.2008, 01:14AM

Time

wet air
long road packed
time goes by

15.12.2008, 01:13AM

Malaikat

kurindu sayap putihku
yang telah lama hilang
dicuri perompak dunia

14.12.2008. 10:13AM

Nikmat Itu Memeluk

: arik

nikmat itu memeluk
dalam keangkuhan yang menerpa
mencoba menjarah dengan jarak
dan perlahan mencuri butiran hati
yang lama terkubur dalam inti bumi

13.12.2008, 02:47AM

Senja Membalut Luka

senja kembali dari kubur
menghitung luka yang tersebar di antara dua sudut ufuk
menyala meradang serta lepuhannya mampu membungkam seribu lebah
dipikirnya langit ingin membantu
dengan menumpahkan butiran biru yang segar kukira
tapi seribu sayatan tak dinyana yang didapat
hingga makin bertebaranlah luka di sepanjang garis langit

luka kembali berjatuhan
seiring dengan raungan zat hara nan meranggas
menyayat bagai pinggiran sebilah kertas tak berdaya
dipikirnya bumi ingin minum
dengan ribuan bakal poripori yang berlomba mengisap
tapi nyatanya perih yang didapat
hingga tetesan darah menjadikan tanah sekelam hitam

13.12.2008, 01:51AM

Ungu

: teman yang meninggalkan kita

tiba-tiba kita menjadi terasing di dalam pagar sendiri
takut menjalar mencubiti sekujur kulit kepala
dan curiga menghela tali kusir yang terlilit di leher
tak bisa lagi menjumput tawa karena telah lepas ke laut
lihat warna warni itu ketika bercampur birunya samudra
tersisa hanya pucuk-pucuk asa yang belum lagi siap di panen
yang terpaksa ku ambil dan ku rangkai dalam bebatan doa
dalam bungkusan selimut hampa reka mereka

Bunga luka berdarah ungu dalam sekelebatan angin
tak sempat menghirup, tak sempat menghela
yang kuingat hanyalah sosok bayang yang makin menipis
menguap bagai embun menjelang siang
Malaikat yang biasanya menuntunku sedang mengaso di warung
penat juga rupanya membopong segembol rasa yang makin tumbuh
bergelambir dan meronta seolah telah habis hirupan nafas yang ada

Aaah….rasa ini

11.12.2008, 06:21PM

Empty

empty space
looking at me and say
love you

08.12.2008, 11:25PM

« Previous Entries