Aku memulai perjalanan ini pada saat angin ribut sedang memporak porandakan rumahku. Tiap malam hujan badai mendera dengan kilat yang mengerikan menyambar ke setiap pojok rumah. Ya badai ini terjadi di dalam rumah dan pusatnya adalah di kamar tidur ayah dan ibu. Mereka berdua seolah sedang adu kesaktian dengan segala macam cara agar bisa mengoyak-ngoyak tiap jengkal kulit masing-masing. Kadang akupun heran dan bingung, bagaimana aku bisa ada di dunia ini dengan kondisi secarut marut itu?
Tiga malam telah berlalu, badai tak berkesudahan masih menggetarkan tiang-tiang pancang rumahku dan aku memutuskan untuk pergi. Berbekal gundukan nyali yang telah lama kukumpulkan sedikit demi sedikit akupun membuka jendela dan ransel kumal yang telah kusiapkan dari sore kupanggul. Rerumputan dan asoka putih di pekarangan seolah-olah melambaikan helai bunganya berharap aku bisa menjaga diriku baik-baik. “Jangan kuatir”, bisikku dalam hati yang tentu saja sudah yakin bahwa badai di dalam jauh lebih berbahaya. Dan sesekali aku menyeka airmata yang meleleh dan mulai membalikkan tubuhku untuk tidak sedikitpun akan menoleh ke belakang lagi.
20.01.2009, 12:36AM