Perjalanan – Scene 1: Overture

Aku memulai perjalanan ini pada saat angin ribut sedang memporak porandakan rumahku. Tiap malam hujan badai mendera dengan kilat yang mengerikan menyambar ke setiap pojok rumah. Ya badai ini terjadi di dalam rumah dan pusatnya adalah di kamar tidur ayah dan ibu. Mereka berdua seolah sedang adu kesaktian dengan segala macam cara agar bisa mengoyak-ngoyak tiap jengkal kulit masing-masing. Kadang akupun heran dan bingung, bagaimana aku bisa ada di dunia ini dengan kondisi secarut marut itu?

Tiga malam telah berlalu, badai tak berkesudahan masih menggetarkan tiang-tiang pancang rumahku dan aku memutuskan untuk pergi. Berbekal gundukan nyali yang telah lama kukumpulkan sedikit demi sedikit akupun membuka jendela dan ransel kumal yang telah kusiapkan dari sore kupanggul. Rerumputan dan asoka putih di pekarangan seolah-olah melambaikan helai bunganya berharap aku bisa menjaga diriku baik-baik. “Jangan kuatir”, bisikku dalam hati yang tentu saja sudah yakin bahwa badai di dalam jauh lebih berbahaya. Dan sesekali aku menyeka airmata yang meleleh dan mulai membalikkan tubuhku untuk tidak sedikitpun akan menoleh ke belakang lagi.

20.01.2009, 12:36AM

Gaza

di padang itu
kaki dan tangan saling mencekik
sekerat tanah tempat memekik
tak kuasa mereka petik

di sisi Gaza
anak Adam saling menggigit
darah mengalir mengisi
ceruk keringnya sungai

di sudut hati
jerit sukma tak tertahan
wajah mungil tanpa tawa
tersedak berhias sedu sedan

di lipatan kafan
tubuh biru yang tak rela
pasrah menelan butiran ego
dan serpih mortir

11.01.2009, 01:57AM

Menunggu

Tak bersisa sepicing mata pun zikir yang kami semai dalam tahta hati. Seperti hari libur yang telah berdebu kami nantikan yang akhirnya datang jua. Tak bersisa sekeratpun gemerlap bulir padi yang telah keriput kami nantikan. Seperti layaknya seorang anak yang kehabisan gulali di pasar malam.

Sementara di sudut lekuk kerlingmu, berhambur air doa dari mata sedalam jarum yang menusuk tanah berkerak. Lamat-lamat robekan lahan syukur membuncah bersama dahaga yang kami kira tlah mati, mati dan mati!

Kami tak menyangka, derap dan alunan kata lagi-lagi membungkus harapan. Hingga kami lupa bahwa pelan-pelan kami tenggelam dalam alunan mimpi yang melekat hangat di bibir tanpa bisa menyentuh sukma

05.01.2009, 01:49AM

Kelakar

Kelakar itu terulang lagi. Bahak dan kekeh kembali bersama, mengaduk dendam akan laparnya ego dan lelucon sampah yang tak lucu.

“Kiranya tak cukup aku mati dua kali dan kiranya tak luluh geram bertempur dengan waktu”

Ucapmu penuh getar tak tentu dikelilingi kabutkabut yang mendidihkan air menjadi embun tanpa sempat jadi hujan.

Pada puncak letupan, semua mengosongkan isi kepala dan menggantinya dengan arang kelapa yang sudah direndam minyak tanah. Tinggal menunggu bara hinggap maka kita semua akan menyaksikan pesta kembang api yang termeriah di dunia ini.

Kelakar itu terulang lagi. Dengan adonan yang makin mengental, sehingga kita semua tak tahu lagi yang mana yang wajar dan yang mana yang seharusnya kita belajar.

03.01.2009, 08:45PM