Sepi

Sepi adalah sekumpulan kabut yang kadang menyekat dinding rasa hingga kosong mengisi relung hati.

Kadang kita dimabuk sepi, terjerembab di jalur kelu, memeluk resah dan tiada arti.

Namun apakah kau tahu bahwa rupa berkata dan nafas menjawab. Saling bersahutan seperti sahabat lama yang tidak pernah bertemu.

Sepi adalah sekarung bibit yang sudah tumbuh sebelum ditanam. Rontanya terasa sampai ke dada.

Begitu indah hingga kita tak yakin apakah ingin menyimpannya atau menguburnya

29.03.2009, 01:49AM

Ketika Dingin & Sepi Bersekutu

Ah…ini terulang lagi untuk yang kesekian kalinya. Kombinasi hening dan suara jalan raya kali ini makin memperkaya himpitan sepi. Mereka tertawa dan bergurau tapi tak sekalipun menyentuh gendang telingaku. Diam-diam onggokan selimut dan bantal mulai membujuk. “Sudahlah, sudah waktunya kau bergabung dengan kami. Akan kami tunjukkan bagaimana rupanya alam tak berujung. Lempung basah yang siap kau bentuk menjadi apapun yang kau mau”. Dan diam-diam gumam yang tertahan sedikit demi sedikit meluncur halus ke tenggorokan dan membentur dua lembar pita suara yang telah lama membeku.

Seandainya suara itu bisa kulihat
Tentu kini aku telah bersetubuh
dengan gumpalan pelangi…

Ah…aku terbangun lagi untuk kesekian kalinya malam ini. Kerutan dan butiran peluh berkejaran merajam tubuh. Kali ini jantung pun ikut menyambut dengan ketukannya. Dingin kembali menggoda, dijilatnya kulit tubuhku dengan gigil. Lalu perlahan gemeretuk gigi pun mulai melengkapi ritual datangnya pagi. Diam-diam aku menyusupkan harap di sela rongga dada. Dalam hati aku berkata:

Peluklah rerumputan ini
Karena jika pagi datang
Ia akan memberimu embun
dan sepercik kehidupan

Ah….sepertinya sekali-kali aku harus coba untuk membisu. Dan membiarkan semuanya menghirup hidup. Sampai akhirnya mati menjemput

20.03.2009, 02:38AM