Kematian Kecil

Malam ini aku bertemu mati. Dan kematian ini menjemputku dengan segelas anggur. Dengan mata sembab dan lelah akhirnya ia berkata jujur padaku.

“Maaf aku harus menjemputmu”

Seketika aku sudah berada di sudut sebuah ruang kosong. Ditemani oleh degup jantung yang sama takutnya dengan aku.

Malam ini aku bertemu mati. Dengan sesenggukan ia duduk di sampingku. Kita menangis bersama karena kita tidak pernah menyangka bahwa kita akan duduk bersama. Di sudut ruang kosong ini.

12.04.2009, 05:50AM

Akan

Akan ku mulai dengan apa adanya
sesederhana birunya langit di saat kau buka jendela di pagi hari
dengan desiran angin sesejuk embun yang menerpa wajahmu
saat kau peluk rerumputan hijau nan segar.

Akan ku mulai dengan sepatah kata
yang telah kupersiapkan jauh hari
di saat jingga mentari senja
mencoba merayu malam agar tak segera memeluknya.

Akan ku tangkap apa saja yang kau tumpahkan,
sementara alampun kadang meruntuhkan langit
serupa butiran dingin yang bisa menyegarkan
dan bisa juga menyakitkan.

Akankah kau dengar denting gitarku
yang kupintal dengan sejumput lirik berbalut rasa?

Akankah kau simpan dalam laci di hatimu
sebentuk asa yang selalu kujaga siang dan malam?

Akan ku tutup mata kecil ini
seiring dengan turunnya hujan
dan balutan dinginnya selimut kelam

04.04.2009, 12:30PM

*Sajak ini dibuat bersamaan dengan menyimak lagu “Cayman Islands” dari Kings Of Convenience*

Bukalah…

Dalam tanda tanya kembali tertegun mata kecil itu. Mata yang sudah bertahun-tahun kutatap, yang selalu penuh dengan kasih, kini terlihat dipenuhi awan kelabu. Mata yang dahulu bak samudra kini sedang dilanda badai yang mengkerucut, hingga menusuk kedalam dasar yang terlanjur membiru.

Tanpa tanda-tanda kembali ku coba untuk menenangkannya. Sebatang padi yang terkulai bukan karena putik yang dipenuhi bulir, namun terpancar kelelahan yang menjerat dan mengekang isi kepala. Tak kudapat jawaban yang lebih jelas seolah matahari sedang terbenam di timur lalu dari ufuk ia meminta tolong dari pelukan tabir gelap.

Dengan hati hampa, sepasang kuping dan sebentuk hati coba kuberikan. Dengan sejumput harap apapun yang tumbuh dan bergejolak akan bisa tertampung untuk kemudian diuraikan menjadi bulir-bulir bambu yang siap untuk dianyam menjadi sebuah kehidupan baru.

Kini…
Bukalah…

18.03.2009, 01:11AM