Poetry (Bahasa)

Di Jalan Ini

di jalan ini
kemacetan menyeretku
kedalam ruas sepi

tak henti-hentinya
mobil menjerit
tak sepucuk nada
yang bisa ku tangkap
seperti menyaksikan
panggung bisu
yang bernama dunia

beberapa pasang mata
menatap dengan nanar
separuhnya berteriak
dengan suara sunyi
yang mencekik

di jalan ini
kesunyian membuatku
berfikir kembali

apakah aku ada
di tempat yang benar
atau aku hanya
merasa aku ada?

di jalan ini
sepi meretas
bagai bunga
yang bermekaran
dengan bau knalpot
bercampur debu jalan

08.11.2009, 12:32

Hidup I – Lahir

desak menyesak
dekap mederap
cercah cahaya
menerpa
dari luar

terdesak
merangsek
udara menyeruak
mengisi rongga
meronta

mataku pedih
dadaku rintih
apa ini?
apa?

08.11.2009, 12:06AM

Salip

Rasanya aku berhenti di satu jalan sementara kau menyalipku
Kau hanya tersenyum dan bilang “Sampai kapan kau ingin berhenti disitu?”
Tak sepatah katapun yang keluar dari mulutku karena memang tak ada apa-apa di situ
Dan kau meninggalkanku bersama segumpal debu yang terhempas dari jejak rodamu

Rasanya aku ingin menahanmu ketika kau menyalipku sekali lagi pagi itu
Kau kembali tersenyum sambil bilang “Sampai kapan kau hendak menahanku?”
Tak sepatah katapun yang keluar dari mulutku karena memang rasanya tak ada jawaban di situ
Dan lagi-lagi kau meninggalkanku yang mulai kesal karena selalu terhempas di tengah debu jejak rodamu

Kali ini aku bisa mengerti kenapa kau selalu menyalipku
Lagi-lagi kau tersenyum dan bilang “Apa kau yakin kau sudah tahu?”
Aku hanya menjawab singkat “Aku tinggalkan bebanku hingga aku dapat ikut berjalan bersamamu”
Dan kini kami bisa berjalan bersama tanpa harus saling tanya dan saling tahan

19.10.2009, 03:43AM

Sebuah Kamar Kosong

Hanya ada selembar layar di depanku dan deretan huruf yang berkejaran dengan hela nafas.

Hanya ada beberapa kerat ingatan yang makin mencekik dalam hening malam yang perlahan tenggelam.

Kamar yang dulu dipenuhi oleh berjuta rasa berbalut asa, kini hanya tinggal debu dalam kabut sendu.

Kini aku pun tak tahu dan langkahku tinggal sepertiupan angin di haluan biduk di mana aku berdiri dan terus mencoba menggapai awan.

Kosong ini membasuh hati, perlahan merendam harap dan aku pun kini tak perduli.

29.08.2009, 01:22AM

Pasir Berbisik

/1/
Segenggam pasir ini adalah pemberianmu. Kau bilang “Simpanlah pasir ini sampai nanti waktunya ia akan berbisik.” Tapi sampai dua depa guratan hari kutorehkan pada dinding beku itu, tetap saja tak sebersit bisik yang muncul.

/2/
Jemariku mulai ragu ketika butiran pasir itu mulai main mata dengan hembusan angin bercampur uap keringat  di bawah teriknya atap seng keparat ini. Sedikit demi sedikit gumpalan itu mengecil, disusul oleh helaan nafasku yang makin tak sabar.

/3/
“Ayolah mana bisikmu?”, sambil terengah aku berteriak pada kumpulan butiran pasir yang sudah mengeras. Air mukaku mulai mengering ditemani oleh desiran angin yang sedikit demi sedikit mengajak pasir berkelana. Tanpa sedikitpun menghiraukanku

/4/
Butiran itu lenyap berhamburan dimakan angin. Tak kuasa lagi rengkuhan ini mengepal. Punah sudah harap itu.  Segenggam asa ini adalah pemberianmu. Kau janjikan itu saat kau beri aku dengan kata.

07.07.2009, 12:37AM

Tiga Teori Tentang Puisi Yang Tak Pernah Mati

PERTAMA, akan susah membunuh puisi kalau terlalu banyak kata-kata yang berebutan untuk dijadikan bumbu makanan sehari-hari. Penyair dan peristiwa pun tak perlu mencari ketika guyonan berbaur dengan luka bertebaran di setiap sudut jalan.

KEDUA, akan susah membunuh puisi kalau penyair telah menyerah terhadap kabut makna, sebab arti dan rasa sudah jadi satu ikatan terbungkus oleh kata-kata yang terbenam dalam kelabu nya makna. Dimana penyair harus bertarung dengan hati untuk menentukan satu diantara seribu atau seribu dalam satu.

KETIGA, akan susah membunuh puisi ketika penyair tak menyadari bahwa daging di tubuhnya sudah mulai berubah menjadi tumpukan kata-kata yang kian hari kian menggeram. Jangankan ingin membunuh, ingin lari pun kata tetap kata yang terendam dalam lautan makna.

: tinggallah penyair sendiri dengan kata yang tergolek

4.7.2009, 01:44PM

Kamar Yang Dicat Putih

/1/
sudah lama aku tak melihat dia
mungkin ada seminggu setelah kamar itu dicat putih
tak ada noda yang tersisa di dinding itu
bahkan semua guratan garis-garis penanda waktu pun hilang seketika
dan dimulailah perjalanan ini

/2/
dua bulan aku meraba seluruh pori di dinding
hanya untuk mencari alur sungai menuju ke dataran rendah
karena biasanya air memang akan menuju kebawah
yang berujung di kumpulan air yang kita sebut danau
tapi di bidang putih yang sekering ini
hanya asa yang bisa melumat segala lelah
dan membuat kaki kita bisa tetap berdiri tegap,
tangan kita bisa tetap meraba dinding,
hanya untuk mencari jalan setapak
untuk keluar dari ruang pengap
yang makin terasa sesak

/3/
kabarnya di luar ada yang menjual pensil
yang bisa aku pakai untuk menggambar ulang
alur sungai ke danau dan jalan setapak itu
tapi bagaimana aku keluar kalau semua pensil adanya di luar?
tiba-tiba jendela mulai menutup dan setengah mati coba kutahan
karena aku masih butuh cahaya walaupun jingga yang tersisa
dan itu pun tak kan lama, karena aku tahu
bahwa jingga pun tak akan bisa lama bertahan
dalam serbuan kelam

/4/
“Percuma kamar ini di cat putih” kataku
aku tak peduli apakah ia mendengar atau tidak
tak selembar cahayapun bisa ia tangkap
walaupun kamar ini sudah di cat putih
dan aku masih juga terus meraba
karena bila aku sudah menemukan alur sungai itu
aku tak akan kuatir akan kehausan
dan kalau aku tak kehausan maka aku akan punya energi
untuk tetap bertahan dan mencari jalan setapak itu
tapi tetap saja gelap memeluk
dan aku ikut memeluk gelap
karena lelah meraba

/5/
sudah lama aku tak melihat dia
mungkin ada setahun ketika kamar itu dihancurkan
pecahan-pecahan dinding masih tercecer
bersama dengan serpihan asa
di dasar sungai di sebelah jalan setapak
ah kemana saja aku selama ini?

19.05.2009, 02:28AM

Mata

sepasang bola yang menjarah cahaya untuk dipersembahkan pada gundukan otak dalam semangkuk hara

sepasang teropong yang tak henti-hentinya menerka jarak antara helai rambut dan untaian bayang di ufuk.

sepasang jalan raya yang tak pernah sepi akan lalu lalang rasa, dimana kuingin sejenak melaluinya

sepasang jendela lemari dimana di dalamnya tersimpan ribuan rindu yang tertata rapi di tiap ambalan hati

17.05.2009, 02:17AM

Kematian Kecil

Malam ini aku bertemu mati. Dan kematian ini menjemputku dengan segelas anggur. Dengan mata sembab dan lelah akhirnya ia berkata jujur padaku.

“Maaf aku harus menjemputmu”

Seketika aku sudah berada di sudut sebuah ruang kosong. Ditemani oleh degup jantung yang sama takutnya dengan aku.

Malam ini aku bertemu mati. Dengan sesenggukan ia duduk di sampingku. Kita menangis bersama karena kita tidak pernah menyangka bahwa kita akan duduk bersama. Di sudut ruang kosong ini.

12.04.2009, 05:50AM

Akan

Akan ku mulai dengan apa adanya
sesederhana birunya langit di saat kau buka jendela di pagi hari
dengan desiran angin sesejuk embun yang menerpa wajahmu
saat kau peluk rerumputan hijau nan segar.

Akan ku mulai dengan sepatah kata
yang telah kupersiapkan jauh hari
di saat jingga mentari senja
mencoba merayu malam agar tak segera memeluknya.

Akan ku tangkap apa saja yang kau tumpahkan,
sementara alampun kadang meruntuhkan langit
serupa butiran dingin yang bisa menyegarkan
dan bisa juga menyakitkan.

Akankah kau dengar denting gitarku
yang kupintal dengan sejumput lirik berbalut rasa?

Akankah kau simpan dalam laci di hatimu
sebentuk asa yang selalu kujaga siang dan malam?

Akan ku tutup mata kecil ini
seiring dengan turunnya hujan
dan balutan dinginnya selimut kelam

04.04.2009, 12:30PM

*Sajak ini dibuat bersamaan dengan menyimak lagu “Cayman Islands” dari Kings Of Convenience*