Perjalanan – Scene 1: Overture

Aku memulai perjalanan ini pada saat angin ribut sedang memporak porandakan rumahku. Tiap malam hujan badai mendera dengan kilat yang mengerikan menyambar ke setiap pojok rumah. Ya badai ini terjadi di dalam rumah dan pusatnya adalah di kamar tidur ayah dan ibu. Mereka berdua seolah sedang adu kesaktian dengan segala macam cara agar bisa mengoyak-ngoyak tiap jengkal kulit masing-masing. Kadang akupun heran dan bingung, bagaimana aku bisa ada di dunia ini dengan kondisi secarut marut itu?

Tiga malam telah berlalu, badai tak berkesudahan masih menggetarkan tiang-tiang pancang rumahku dan aku memutuskan untuk pergi. Berbekal gundukan nyali yang telah lama kukumpulkan sedikit demi sedikit akupun membuka jendela dan ransel kumal yang telah kusiapkan dari sore kupanggul. Rerumputan dan asoka putih di pekarangan seolah-olah melambaikan helai bunganya berharap aku bisa menjaga diriku baik-baik. “Jangan kuatir”, bisikku dalam hati yang tentu saja sudah yakin bahwa badai di dalam jauh lebih berbahaya. Dan sesekali aku menyeka airmata yang meleleh dan mulai membalikkan tubuhku untuk tidak sedikitpun akan menoleh ke belakang lagi.

20.01.2009, 12:36AM

Tinggal Aku Sendiri (dengan kawan kecilku)

Belum habis bulan beranjak dari peraduannya, dimana kita menertawakan sepasang awan yang buyar terterpa dinginnya gelap selimut malam. Dan belum juga kering hijaunya rumput dari tebaran embun, dimana kita berguling diatasnya saling memagut.

Tanpa sadar kita sudah ada di dalam selimut malam itu. Ya…selimut malam yang membuyarkan awan dengan dingin dan gelapnya. Kita tak bisa lagi berguling diatas tebaran embun, karena pelukan rumput tiba-tiba menyadarkan kita bahwa luka baru siap terbentuk dengan kawah-kawah penuh magma.

Kini tinggal aku sendiri dengan kawan kecilku mencoba menjawab seribu pertanyaan yang muncul akibat persekongkolan kami dengan sang ego. Sejuta pengandaian, sejuta pengakuan dan sejuta ketakutan kami torehkan pada sepanjang langit-langit tempat kami terpojok dan teronggok.

Kini tinggal aku sendiri dengan kawan kecilku…

santa, 03.05.2007, 11:24

Kita Bertiga

Kini tinggal kita bertiga. Kau, aku dan jasad waktu yang tersisa dalam penantian panjang yang tak berkesudahan. Kelelahan menggurat wajah sepanjang pembuluh darah yang bisa kau sebut. Dan itu semua membekaskan jejak yang dalam.

“Oh, aku lelah….Akankah ini semua berakhir?” ucapmu sambil menahan sesengguk nafas yang makin lama makin membiru. “Sabar sayangku, yakin lah bahwa tidak akan lama lagi semua ini berakhir.” Kataku dengan tatapan kosong yang jelas tergambar kebimbangan yang amat sangat mencekik.

Sementara itu disamping kita berdua terbujur jasad waktu diselimuti lembar-lembar asa bercampur getah-getah kenyataan yang getir sebagai perekat agar tubuh yang makin membiru itu akan tetap hangat dan pada saatnya nanti akan bangkit memberikan harapan yang berwarna.

“Apa kau yakin dia akan kembali bersama kita?,” lirih mu, dengan sembab yang memeluk erat seolah tak ingin lepas dari gelayut wajah yang menyendu. “Ya sayang, dia akan kembali pada kita dan memberi harapan-harapan seperti apa yang aku janjikan dulu pada mu.” Semburat hangat dari pelukanku mengatur aliran nafas mu.

Kini tinggal kita bertiga. Kau, aku dan jasad waktu yang tetap terdiam dalam pergulatan asa dan batin yang tak berkesudahan. Kata demi kata berjatuhan. Asa demi asa terucapkan. Hanya untuk melewati hari-hari dimana tak kan pernah ada yang menghampiri kita bertiga

rawamangun, 04.04.2007, 01:04