<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="0.92">
<channel>
	<title>PaparanKata</title>
	<link>http://paparankata.com</link>
	<description>wordplayground</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 Mar 2011 01:34:23 +0000</lastBuildDate>
	<docs>http://backend.userland.com/rss092</docs>
	<language>en</language>
	<!-- generator="WordPress/3.2.1" -->

	<item>
		<title>Jakarta (v)</title>
		<description><![CDATA[Pagi berkejaran dengan detik Diam-diam menyelundupkan cahaya berbalut embun Bersama dengan kepak harap yang gemuruhnya terdengar sampai di penghujung kampung kami Dihunusnya sebilah belati kehidupan yang akupun tak tahu akankah ia memberi ataupun mengambil Hanya rasa dan nafas yang jadi jalan dengan sesekali sepotong hati itupun jika ia teringat Pagi ini Jakarta berkejaran dengan detik [...]]]></description>
		<link>http://paparankata.com/2011/03/jakarta-v/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Tak Lagi Punya&#8230;</title>
		<description><![CDATA[orang-orang itu tak lagi punya pagar karena para tetangga memakannya demi seonggok pengakuan yang tak jua jelas apa gunanya orang-orang itu tak lagi punya atap karena tetangga bilang tak boleh demi seonggok perbedaan yang jelas bukan urusannya orang-orang itu tak lagi bisa berdoa karena tetangga bilang mereka berbeda demi hati yang terlanjur panas hingga indra [...]]]></description>
		<link>http://paparankata.com/2010/08/tak-lagi-punya/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Jakarta (iv)</title>
		<description><![CDATA[surat kabar membungkus pagi meremas setiap sudut berita gurih berlompatan dalam sekapan hidup 20.05.2010, 01:52AM]]></description>
		<link>http://paparankata.com/2010/05/jakarta-iv/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Jakarta (iii)</title>
		<description><![CDATA[ah sudahlah, tlah kubungkus asaku bersama janji usang yang kusimpan untukmu bila saja aku bisa menghitung detik dalam satu nafas di hadapanmu maka tak perlu lagi kau memeluk jalan di sudut pasar bermandikan embun ah sudahlah, kumpulan gedung itu masih juga menertawakan aku dan asaku terbenam peluh hari yang bulir-bulirnya kukumpulkan dan berharap bisa ditukarkan [...]]]></description>
		<link>http://paparankata.com/2010/05/jakarta-iii/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Jakarta (ii)</title>
		<description><![CDATA[mengukur aspal dalam peluh hingga ke jingga 20.05.2010, 01:09AM]]></description>
		<link>http://paparankata.com/2010/05/jakarta-ii/</link>
			</item>
	<item>
		<title>The Box</title>
		<description><![CDATA[The box was sealed I drove to nowhere Drawing path in the sand Sowing the seed I still unpack my box I keep it near horizon So I can still open it When it&#8217;s dark &#8230;when you come 28.03.2010, 03:14PM]]></description>
		<link>http://paparankata.com/2010/03/the-box/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Insomnia</title>
		<description><![CDATA[Malam tadi aku menonton film yang kutanam dalam mataku dan terpancar ke langit-langit Sambil menangis aku menyimpan bola mataku di sudut laci dalam lemari, tapi suaranya masih terdengar Sabar&#8230;mungkin sebentar lagi si aktor tiba. Ia masih malu untuk memanjat keluar dari bibir. Karena kakinya masih terjerumus di kerling mata Gerimis mulai turun, dan aku mengambil [...]]]></description>
		<link>http://paparankata.com/2010/03/insomnia/</link>
			</item>
	<item>
		<title>We Are Here</title>
		<description><![CDATA[we are here lay down on the ground watching the cloud squezee each other hand touch the rain, and turning light into color we still here even you are there and I&#8217;m somewhere else 20.03.2010, 04:02PM]]></description>
		<link>http://paparankata.com/2010/03/we-are-here/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Taman Bermain</title>
		<description><![CDATA[Sepi adalah taman bermain bagi kesendirian. Di mana kesenyapan menjadi bunga dalam teriknya belantara bunyi. Seperti yang kau dapati dalam peran-peran picisan pada film-film murahan, pada saat gundah menerpa maka sunyi membekap lalu membuatmu perlahan muak. Inilah saatnya gerbang sepi dibuka, dan beramai-ramai kesendirian melangkah masuk lalu duduk beriringan pada undakan tangga di dalamnya, menunggu [...]]]></description>
		<link>http://paparankata.com/2010/03/taman-bermain/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Kali Kedua</title>
		<description><![CDATA[Ini adalah kali kedua&#8230; Sebaris kerak hitam melingkar 1 centimeter dari bibir gelas seolah jadi saksi. Aku tak ingin tertidur, ucapmu dalam hati. Karena aku tak ingin sedetikpun melewatkan mu. Aku hanya punya waktu selemparan batu untuk sampai di jingganya ufuk. Dan ku harap kau mengerti. Ini adalah kali kedua&#8230; Dan kali ini aku memelukmu [...]]]></description>
		<link>http://paparankata.com/2010/03/kali-kedua/</link>
			</item>
</channel>
</rss>

