Langit

langit begitu sepi…
begitu katamu saat rebah di pangkuanku
dan hembusan semilir merengkuh tubuh
seolah tak rela jika ada kau di sisiku

langit begitu lengang…
seperti jalan tol di dini hari
dimana hanya embun dan dingin
menerpa dan merasuk dalam tubuh

langit begitu kusam…
saat sang Izrail meminta ijin
untuk membawaku pergi dari rumah
dan aku pun mengangguk pelan

langit begitu bening…
sebening airmata yang jatuh di pipimu
saat kau memeluk tubuhku
dan akupun ikut menangis

18.12.2009, 12:56PM

Di Ambang

: untuk ISA

tambat itu telah lama lepas
namun biduk ini tak juga lalu
perlahan akhirnya hujan membasuh
semua kata yang menjangkar di sana

21.11.2009, 02:16AM

Di Jalan Ini

di jalan ini
kemacetan menyeretku
kedalam ruas sepi

tak henti-hentinya
mobil menjerit
tak sepucuk nada
yang bisa ku tangkap
seperti menyaksikan
panggung bisu
yang bernama dunia

beberapa pasang mata
menatap dengan nanar
separuhnya berteriak
dengan suara sunyi
yang mencekik

di jalan ini
kesunyian membuatku
berfikir kembali

apakah aku ada
di tempat yang benar
atau aku hanya
merasa aku ada?

di jalan ini
sepi meretas
bagai bunga
yang bermekaran
dengan bau knalpot
bercampur debu jalan

08.11.2009, 12:32

Hidup II – Ibu

detak hangat
terasa lembut
dan tangis itu
mengisi jantung
dengan hidup

kau beri aku
darah baru
dengan darah
yang kubagi

kau beri aku
asa baru
dengan rasa
yang kau beri

kali ini
hanya dekap

mulai saat ini
kujaga dekat

dan tumbuh lah
permataku

08.11.2009, 12:15AM

Hidup I – Lahir

desak menyesak
dekap mederap
cercah cahaya
menerpa
dari luar

terdesak
merangsek
udara menyeruak
mengisi rongga
meronta

mataku pedih
dadaku rintih
apa ini?
apa?

08.11.2009, 12:06AM

Salip

Rasanya aku berhenti di satu jalan sementara kau menyalipku
Kau hanya tersenyum dan bilang “Sampai kapan kau ingin berhenti disitu?”
Tak sepatah katapun yang keluar dari mulutku karena memang tak ada apa-apa di situ
Dan kau meninggalkanku bersama segumpal debu yang terhempas dari jejak rodamu

Rasanya aku ingin menahanmu ketika kau menyalipku sekali lagi pagi itu
Kau kembali tersenyum sambil bilang “Sampai kapan kau hendak menahanku?”
Tak sepatah katapun yang keluar dari mulutku karena memang rasanya tak ada jawaban di situ
Dan lagi-lagi kau meninggalkanku yang mulai kesal karena selalu terhempas di tengah debu jejak rodamu

Kali ini aku bisa mengerti kenapa kau selalu menyalipku
Lagi-lagi kau tersenyum dan bilang “Apa kau yakin kau sudah tahu?”
Aku hanya menjawab singkat “Aku tinggalkan bebanku hingga aku dapat ikut berjalan bersamamu”
Dan kini kami bisa berjalan bersama tanpa harus saling tanya dan saling tahan

19.10.2009, 03:43AM

Sebuah Kamar Kosong

Hanya ada selembar layar di depanku dan deretan huruf yang berkejaran dengan hela nafas.

Hanya ada beberapa kerat ingatan yang makin mencekik dalam hening malam yang perlahan tenggelam.

Kamar yang dulu dipenuhi oleh berjuta rasa berbalut asa, kini hanya tinggal debu dalam kabut sendu.

Kini aku pun tak tahu dan langkahku tinggal sepertiupan angin di haluan biduk di mana aku berdiri dan terus mencoba menggapai awan.

Kosong ini membasuh hati, perlahan merendam harap dan aku pun kini tak perduli.

29.08.2009, 01:22AM

Jahitan Rindu

ada bisik
dalam lipatan harap
yang menelisik
dalam jahitan rindu

07.07.2009, 02:33AM

Jakarta

berjuta debu melambai
di sela himpitan roda dan kumpulan beton
dan rindu pun memanggil

07.07.2009, 01:54AM

Pasir Berbisik

/1/
Segenggam pasir ini adalah pemberianmu. Kau bilang “Simpanlah pasir ini sampai nanti waktunya ia akan berbisik.” Tapi sampai dua depa guratan hari kutorehkan pada dinding beku itu, tetap saja tak sebersit bisik yang muncul.

/2/
Jemariku mulai ragu ketika butiran pasir itu mulai main mata dengan hembusan angin bercampur uap keringat  di bawah teriknya atap seng keparat ini. Sedikit demi sedikit gumpalan itu mengecil, disusul oleh helaan nafasku yang makin tak sabar.

/3/
“Ayolah mana bisikmu?”, sambil terengah aku berteriak pada kumpulan butiran pasir yang sudah mengeras. Air mukaku mulai mengering ditemani oleh desiran angin yang sedikit demi sedikit mengajak pasir berkelana. Tanpa sedikitpun menghiraukanku

/4/
Butiran itu lenyap berhamburan dimakan angin. Tak kuasa lagi rengkuhan ini mengepal. Punah sudah harap itu.  Segenggam asa ini adalah pemberianmu. Kau janjikan itu saat kau beri aku dengan kata.

07.07.2009, 12:37AM

« Previous Entries Next Entries »